Spiga
Showing posts with label Family. Show all posts
Showing posts with label Family. Show all posts

Business Lessons from My Uncle

Waktu berlibur di Bali selama hampir 10 hari, gw memanfaatkan waktu untuk ngobrol, discuss dan sharing sama Om Iwan, adik mamah yang paling bungsu. He is my role model anyway, bagaimana dia mengkonversi segala kisah masa kecil dia yang mengharu - biru menjadi sebuah kisah sukses.

Well, Om Iwan adalah adik bungsu mamah yang menjadi korban perceraian Abah dan Oma sejak dia berumur balita. Sejak itu, dia seperti layang - layang lepas yang menghabiskan masa kecilnya dengan ikut Neneknya (Uyut gw). Dan sejak uyut gw meninggal dia ikut kesana kemari, sempat tinggal bersama Abah, trus Oma, trus ke kakaknya Oma di Ciawi. Yah tipical anak korban perceraian.

Keprihatinan dia berlanjut sampai masa remaja dan saat - saat dia kuliah. Gw tau persis ketika saat - saat itu dia begitu prihatin karena kondisi ekonomi Abah dan Oma yang sedang tidak baik. Praktis, biaya kuliah dia ditanggung kakak - kakaknya dan berbagai upaya dia sendiri. Dan kami begitu mengagumi semangat dia untuk menyelesaikan kuliah.

Kondisi mulai berubah ketika sejak tahun 1997 dia mulai merintis perusahaan travel agent sendiri di Bali. Yang unik adalah ketika pada saat itu hampir semua Travel Agent fokus ke pasar Eropa (barat) , Amerika dan Jepang, dia malah merintis market baru untuk turis dari Rusia. Waktu itu hampir semua relasi dia menanyakan keputusan tsb. Karena waktu itu Rusia adalah sebuah negara yang nyaris bangkrut. So, kenapa harus Rusia?

He said, waktu itu dia menganalisa potensi dari negara yang akan berkembang, salah satunya dari potensi jumlah penduduk dan potensi kekayaan alam yang mereka miliki. Dan terbukti, berkat harga minyak yang tinggi sekarang Rusia menjadi negara yang kaya raya. Tapi dulu, ngga banyak orang yang melihat potensi itu.

Dia merintis pasar Rusia tersebut secara mandiri dan kontinyu, dan nyaris tanpa kompetitor waktu itu. Dan faktanya adalah turis dari Rusia itu adalah tipikal turis - turis kaya raya yang memiliki daya beli tinggi dan waktu tinggal yang lama. Dan Om gw sangat tepat membidik pasar tersebut.

Well, Om gw bilang dalam bisnis kita harus selalu jeli melihat peluang dengan didukung oleh fakta hasil analisa. Dan gw menjadi salut when he said omzet yang diraih perusahaan nya tahun lalu adalah sebesar 70 M, gosh! Lebih salut lagi, dia tetap humble, sayang keluarga, dan sangat memperhatikan kesejahteraan para karyawannya.

Hm that's a real entrepreneur, isn't it?

Mereka, motivasi terbesar gw untuk sukses

Selalu ada hal yang membuat gw merindukan rumah, especially my family: Mom, Papap, Teh Irma dan De Irna. Dan kepulangan gw itu juga selalu mencharge kembali semangat dan motivasi gw untuk memberikan kebahagian dan membuat mereka bangga.
My Mom, is the main reason why. Sometimes, gw suka sengaja pulang kerumah di hari kerja. Supaya gw bisa punya waktu berdua saja sama Mom, tidur di tempat tidurnya, ngobrol, bermanja - manja, sambil meminta Mom membelai rambut gw like I was her little boy. I felt so safe and comfortable at the moment.
Gosh, kerutan itu semakin nampak jelas di wajahnya, rambutnya semakin banyak yang memutih. Hm, tapi tetap saja Mom selalu tidak bisa menahan air matanya setiap gw menceritakan apa yang sudah gw capai selama ini.
Tuhan, izinkan aku untuk membahagiakan mereka, amiin.

Anak Mami, is it something that i have to proud of ?

Takdir rasanya membuat gw untuk selalu ada di dekat mama. Waktu gw lulus SMA dan sedang bersiap2 kuliah di luar kota, mama kena cancer dan akhirnya membuat gw sebagai anak cowo satu – satunya di keluarga untuk terus menerus mendampingi mama selama menjalani pengobatan. Dan alhasil, gw memutuskan untuk kuliah di Teknik Kimia ITI yang jaraknya deket banget (kepeleset aja nyampe!) dari komplek tempat keluarga gw tinggal. So, gw ga pernah ngerasain jadi anak kost. Ketika gw lulus kuliahpun, gw masih tinggal sama orang tua. Yah secara gw juga memulai bisnis gw dari rumah, Small Office Home office. Dan mau ga mau cap anak mama melekat pada diri gw.

Dan sekarang, ketika usia gw nyaris menyentuh angka 28, gw memutuskan untuk pindah tempat tinggal. Untuk pertama kali dalam hidup gw, gw akan hidup terpisah dari keluarga gw, terutama dari mama. Hm, berat juga ya ternyata. Dan ternyata mama juga merasa berat juga melepas gw. Padahal adik gw yang pertama, Irma,5 tahun lebih tinggal di Bali dan bahkan adik bungsu gw, Irna, sempat tinggal satu tahun di Jerman. Tapi ga tau kenapa ketika gw yang berniat pindah, mama malah berat banget ngelepas gw.

Tapi the show must go on, emang udah saatnya gw pindah dan memulai hidup baru gw dengan mandiri. Well, buat orang Italia, anak lelaki selalu menjadi seorang bocah cilik bagi ibu mereka. Dan sama seperti halnya gw, umur gw memang bertambah, tapi ga tau kenapa mama selalu aja menganggap gw sebagai anak lelaki kecilnya, dan itulah kenapa gw selalu bisa bermanja – manja sama mama.

So mom, don’t you feel so worry ya, cause i will always be your little boy, forever !

Lelaki tua itu adalah ayahku..

People says biasanya anak cowo dekat sekali sama Ibunya, sedangkan anak cewe deket banget sama ayahnya. I think it’s happen to me, karena gw ngerasa dekat banget sama mama, kami biasa cerita, bercanda, dan gw bisa bermanja – manja dengannya. Tapi ga tau kenapa sejak gw beranjak remaja hubungan gw sama papap dingin sekali. Tidak seperti hubungan kami sewaktu gw masih duduk di bangku sekolah dasar. Kami ga pernah bisa dekat, bahkan ngobrol pun jarang sekali. Karakter kami berbeda, sifat kami berbeda, kami ga ngeklik sama sekali bahkan ngga jarang kami berkonflik yang biasanya didamaikan oleh mama atau adik – adikku. Disamping ego kami sama – sama besar.

Well, papap adalah seorang pekerja keras dan pria rumahan yang cinta keluarga. Papap adalah pria pertama di keluarga besarnya yang berani mengambil resiko bersekolah di sekolah umum dimana pada saat itu Aki Abong (ayahnya papap yang juga berarti kakek gw) menginginkan semua anak lelakinya bersekolah di pesantren. Papap dengan gagah berani memilih tinggal di Bandung seorang diri sejak SMP dan secara mandiri mencari biaya sendiri untuk membayar biaya sekolahnya dari SMP sampai STM. Sedang waktu itu Aki Abong hanya menanggung biaya hidup selama di Bandung. Oia, desa kelahiran papap terletak di pelosok kecamatan Malangbong-Garut yang ndeso banget. Tekad & motivasi papap untuk sekolah terus berlanjut hingga akhirnya bisa disekolahkan pemerintah ke Jerman selama beberapa tahun. Dan itu pula yang membuat tekad papap dan mama untuk mementingkan pendidikan anaknya diatas apapun juga dan hasilnya alhamdulillah semua anak – anaknya bisa mendapatkan gelar sarjana.

Kembali, gw juga ga pernah bisa mengerti kenapa kami ga bisa ”dekat” layaknya seorang ayah dan anak lelakinya. Sometimes gw pengen banget bisa merasakan kedekatan itu. Seperti halnya kedekatan gw dan mama. Atau kedekatan adik perempuanku dan papap. Well, sudah 2 minggu ini papap sakit dan beberapa kali harus pergi ke dokter. Mungkin faktor usia papap yang tahun ini berumur 60 tahun juga menjadi salah satu faktor kenapa kebugarannya tidak seperti dulu. Jadi semakin menyadari bahwa ayah gw itu sudah semakin menua. Ada satu saat dimana gw merasa takut banget kehilangan dia dan jujur kadang merindukan saat – saat dimana kami serasa dekat sekali.

Well pap, although we couldn’t get along normally, i want to u to know that i love you and i care about you!

Pacar Adikku

Adik bungsuku Irna adalah kesayangan keluarga. Tentu karena posisi dia yang anak bungsu di keluarga kami. What’s makes her happy, then I’m happy for her too. Termasuk tentunya ketika dia terlihat bahagia dengan pasangannya yg sekarang. Well, sudah beberapa kali dia membawa pacarnya itu datang kerumah dan menginap disini karena hubungan jarak jauh mereka. Our family is welcome to him. Wait, all family? Nope! Secara sengaja sometimes gw memasang sikap yang sangat tidak bersahabat kepadanya. Dan itu gw tunjukkan ketika misalnya gw cuekin dia yang mencoba ngajak gw ngobrol atau saat gw ga mengizinkan ketika adikku memohon supaya pacarnya itu bisa diajak tidur sekamar dengan gw, huh enak aja! Dan akhirnya membiarkan pacar kesayangannya itu tidur di ruang tamu ditemani nyamuk – nyamuk nakal.

Kalo dipikir2, rada sadis juga ya sikap gw sama dia? Hm, kadang gw jealous juga sih ketika menyadari adik bungsu gw mempunyai “lelaki” lain selain gw, abang satu –satunya itu. Halah, alasan aja yak, hi..hi

Well, young man! Don’t u ever think it’s easy to get my sister ya. Walaupun elo sudah hampir berhasil menaklukkan papap, mamah, de Irma, tapi jangan harap bisa dengan mudah melewati ujian dari gw. Hm, sorry! I just want to make sure kalo elo memang pantas untuk bersama adik bungsu kesayangan gw itu. So you better makes me sure that you’re the one! How? Just think about it, you moron! If you do, then I will give you my open arms.

Sekali lagi, what makes her happy then I’m happy for her too.

Acang, sang Supir-Star

Well, rezeki sama halnya seperti jodoh dan mati adalah rahasia Tuhan. Kita ga pernah tau berapa takaran rezeki yang sudah Tuhan tentukan untuk kita. Karena itu rezeki yang diterima setiap orang pasti akan berbeda, pun halnya yang bisa terjadi di keluarga besar kita sendiri. Sering kita dapati ada anggota kelurga besar kita yang hartanya melimpah luar biasa, tapi di keluarga yang sama ada juga yang kurang beruntung.

Di Keluarga besarku, kenyataan itu terjadi. Dari 8 orang adik mama, ada diantara mereka yang merupakan pengusaha sukses seperti Om Iwan yang punya beberapa perusahaan, termasuk satu perusahaan travel yang besar di Bali. Ada yg sukses sebagai birokrasi, seperti Om Asep yang mantan Ketua BULOG di salah satu propinsi. Ada juga professional yang cukup berhasil seperti Om Iman yang merintis karir dari bawah hingga sekarang bekerja di salah satu perusahaan Oil&Gas multinasional. Ada yang sukses merantau di negeri orang seperti Om Oi yang sekarang bekerja di London. Atau Om Ai, yang walaupun mempunyai bakat luar biasa sebagai seorang pelukis, tapi lebih memilih untuk membantu perusahaan Ate Vivi dan suaminya, Om Sapto. Sedang Mama & Bi Rita memilih untuk berkonsentrasi untuk berkarir sebagai ibu rumah tangga.

Ada satu adik mama yang mungkin kurang beruntung dalam hal finansial. Yup, Om Acang adik mama yang ke 5 hanyalah seorang supir yang bekerja di satu perusahaan di daerah Cikampek. I don’t say that it’s pathetic profession ya, tapi kita bisa membayangkan apalah yang bisa diharapkan dari gaji seorang supir untuk bisa menghidupi keluarganya itu sementara kebutuhan hidup sekarang sangatlah tinggi. Belum lagi untuk pendidikan anak – anak dan persiapan bekal di hari tua mereka nanti.

Tapi yang aku salut dari Om Acang adalah tanggungjawabnya yang besar sebagai seorang Suami dan ayah. Ketika dia menyadari bahwa penghasilannya mungkin kurang bisa diandalkan, even istrinya bekerja, dia selalu berusaha keras untuk mencari penghasilan tambahan di luar pekerjaan rutinnya. Apapun yang terlihat bisa menghasilkan uang dengan tanpa ragu pasti dia lakoni, prinsipnya apapun asal halal. Aku tidak pernah melihat kelelahan di raut mukanya selain tanggung jawabnya yang besar sebagai kepala rumah tangga.

Well, aku beruntung berada dalam keluarga besar yang kompak. Oma selalu mendidik kami untuk saling mengasihi satu – sama lain, even ayah atau kakek kami berbeda. Yup, mama & 3 orang adik pertamanya adalah anak Oma dari Abah. Sedangkan adik mama selanjutnya adalah anak Oma dari Opa setelah Oma & Abah bercerai. Tapi tidak pernah sekalipun aku melihat ada masalah dengan itu. Tidak ada istilah kandung atau tiri di keluarga besar kami. So, ketika ada anggota keluarga besar kami yang kesusahan pasti akan selalu ada solusi untuk itu. Tapi Om Acang tetaplah Om Acang yang selalu berprinsip untuk hidup dari sesuatu yang dihasilkan dari tangannya sendiri.

Hm, hidup memang kadang di atas atau di bawah. Namun, yang aku pelajari dari Om Acang adalah even ketika kita ada dalam posisi yang kurang beruntung, kita tetap harus berusaha semaksimal mungkin untuk terus memberikan kebahagiaan kepada keluarga. Kerja keras adalah kata kuncinya. I’m proud to you for that Om!

War Declare to Breast Cancer, a tribute for My Mom

Iseng – iseng ngebrowse internet sampai tidak sengaja aku menemukan satu artikel tentang breast cancer. Well, bicara tentang breast cancer jadi mengingatkan satu peristiwa yang terjadi hampir 10 tahun yang lalu.

Malam itu, sepulang mama dan papap dari Rumah Sakit Fatmawati untuk check sakit yang sedang mama rasakan, mama mengumpulkan kami bertiga anak – anaknya. Aku masih ingat banget ketika dengan suara parau menahan tangis mama memberitahu kami bertiga kalo mama mengidap breast cancer stadium III. Ternyata sakit yang selama ini mama rasakan itu adalah akibat dari cancer keparat itu. Dengan suara parau menahan tangis, mama meminta kami semua tabah dalam menghadapi cobaan ini. Mama butuh support dari kami semua supaya mama bisa tenang dalam menghadapi rangkaian pengobatan yang harus dia jalani.

Ngga lama setelah itu, Mama & Papap mengurus semua berkas – berkas yang dibutuhkan supaya mama bisa mendapatkan pertolongan segera dengan memanfaatkan fasilitas ASKES papap yang seorang PNS. Thanks God kalo sakit mama itu bisa terdeteksi lebih dini. Karena kalo sudah memasuki stadium IV, biasanya sudah tidak bisa tertolong lagi.

Hari itu, ketika mama akhirnya harus dioperasi, aku masih ingat sekali ketika itu karena kami semua begitu tegang selama mama menjalani operasi. Waktu terasa begitu lambat. Kami semua berdoa dalam sunyi memohon supaya wanita yang mulia ini diberikan kekuatan supaya bisa melewati operasi ini dengan selamat. Memohon kepada Allah supaya mama bisa diberi kesempatan untuk mendampingi papap selama mungkin dan bisa melihat kami, anak – anaknya, beranjak dewasa dan memberikan kebanggaan bagi mereka.

Tidak lama setelah operasi selesai, terlihat para suster membawa tubuh mama yang dibalut dengan kain putih keluar dari ruang operasi untuk kembali ke ruangan tempat mama dirawat. Aku masih ingat sekali secara detail saat itu. I was so shocked and for the first time in my adult life i cried. Ada perasaan sedih yang amat sangat ketika melihat kondisi wanita yang paling aku cintai di dunia ini. Jika memang dimungkinkan, ingin rasanya aku menukar tempat mama waktu itu dengan tubuhku supaya mama tidak usah melewati penderitaan itu.

Syukur Alhamdulillah satu fase dari proses penyembuhan mama telah berhasil dilewati. Tapi mama tetap harus menyiapkan mental & fisiknya untuk menghadapi fase selanjutnya. Fase yang sangat berat, yaitu kemotheraphy. Yaitu suatu proses penyembuhan penyakit kanker untuk membunuh sisa – sisa sel kanker yang munkin masih ada dalam tubuh. Intensitas kemotheraphy itu dilakukan sesuai rekomendasi dokter dan dijalani dalam 6 – 12 kali theraphy. Aku ingat sekali saat itu, karena akulah yang waktu itu mengantar mama untuk menjalani proses kemotheraphy di Rumah Sakit Pertamina Pusat. Karena kami tidak mempunyai mobil, kami berangkat pulang – pergi dengan memakai taxy bahkan beberapa kali menggunakan angkot dan mama tabah sekali. Well, karena obat dan proses penyembuhan penyakit kanker ini membutuhkan biaya yang sangat besar mungkin akhirnya papap harus menghemat pengeluaran keluarga kami supaya mama bisa terus menjalani proses penyembuhannya.

Dampak dari kemotheraphy itu sangat terlihat pada mama, tubuh mama yang mungil itu menjadi sangat kurus ditambah kerontokan rambut akibat radiasi & panas dari kemotherapy tsb. Masa – masa itu adalah masa yang paling berat bagi keluarga kami. Sakitnya mama yang terjadi ngga lama setelah kesembuhan papap dari penyakit stroke. Ditambah aku yang baru masuk kuliah, de Irma yang kelas III SMA dan de Irna yang baru SMP kelas III yang tentu juga membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Syukur alhamdulillah kami tetap bisa kuliah dan sekolah ditengah – tengah kondisi keuangan keluarga kami yang terfokus pada proses penyembuhan mama yang membutuhkan biaya yang sangat besar.

Setelah proses kemotheraphy itu selesai, alhamdulillah mama dinyatakan sembuh dari penyakit kanker itu. Sesuatu yang sangat kami syukuri. Dengan konsisten untuk terus menjalani proses pengobatan ditambah support & motivasi yang diberikan oleh orang - orang terdekat, penyakit kanker bisa disembuhkan.

So, buat pembaca blogku yang berjenis kelamin wanita, waspadalah terhadap penyakit yang mematikan ini. Hindari stress dan makanan yang tidak sehat. Jika ada anggota keluarga kita yang pernah menderita kanker, kita harus lebih waspada lagi.

Yuk kita dukung kampanye pencegahan penyakit kanker itu dengan terus menerus memberikan pencerahan kepada siapapun orang yang kita kenal untuk selalu waspada terhadap penyakit kanker. Semoga kita semua senantiasa terlindung dari berbagai penyakit, amin.
Mom..i Love You so much

My Sister’s Wedding

Hari Minggu lalu 18 November 2007, De Mia, adik sepupuku melangsungkan pernikahan dengan Agus. Well, De Mia ini adalah putri pertama dari Bi Rita, adiknya mama no 2 dan dia adalah cucu Oma pertama yang menikah (kesalip deh, hiks!)

Yang menarik dari pernikahan mereka adalah kenyataan kalo mereka menikah setelah berpacaran hanya 3 bulan saja. Dasar memang sudah jodoh kali ye, ga lama kenal langsung berpacaran dan akhirnya bisa langsung menikah. De Mia looked so great on her wedding dress. She looked so pretty! Wah Agus beruntung banget dah ah.

Oia karena de Mia adalah cucu pertama Oma yang menikah, Oma terlihat begitu sumringah hari itu. Mungkin dalam hati sambil berdoa de Mia bisa segera memberikan cicit pertama buat Oma kali ye, he3x

Well de Mia, selamet ya sekali lagi. Semoga de Mia & Agus bisa membentuk pernikahan yang sakinah ma waddah wa rahmah, amin.

Doakan Aang mu ini bisa juga nyusul dirimu yah, jadi pengen soalnya, he..he

Adik Bungsuku di Wisuda, hore!

Hari kamis minggu lalu, yang lalu adik gw yang bungsu, Irna, berhasil menamatkan pendidikan Sarjananya di Sastra Jerman, Universitas Pendidikan Indonesia (dahulu IKIP Bandung). Selamat ya de, you did it! Adikku ini angkatan 2002, menamatkan kuliah dalam waktu 5 tahun. Tepat waktu juga, padahal waktunya sempet terpotong karena selama Agustus 2005 sampai Agustus 2006 yang lalu dengan gagah berani dia pergi ke Jerman seorang diri untuk memperlancar bahasa Jermannya dengan tinggal langsung di satu keluarga Jerman disana. Sambil juga ambil coursel singkat bahasa Jerman. Btw adikku ini lulus dengan predikat summa cum laude, karena IPK nya diatas 3,5, wow! Alhamdulillah, we proud of you de!

Wisuda dia hari kamis yang lalu ditemani sama mama & papap aja, karena gw dan de Irma ga bisa ninggalin kerjaan kami masing – masing. So sorry! Tapi yang penting, akhirnya semua bisa berjalan dengan lancar. Dan tepat hari Sabtu sore tadi, mereka pulang dengan membawa seluruh barang – barang Irna selama 5 tahun di Bandung.
Alhamdulillah lagi, ga lama setelah Sidang Sarjananya dia diterima bekerja di SMART Telekom, dan akan masuk kerja hari Senin tanggal 29 Oktober nanti. Hebat deh

Well, welcome home ya Ade! Asyik, ada orang yang bisa gw goda2in lagi, he3x