Well, rezeki sama halnya seperti jodoh dan mati adalah rahasia Tuhan. Kita ga pernah tau berapa takaran rezeki yang sudah Tuhan tentukan untuk kita. Karena itu rezeki yang diterima setiap orang pasti akan berbeda, pun halnya yang bisa terjadi di keluarga besar kita sendiri. Sering kita dapati ada anggota kelurga besar kita yang hartanya melimpah luar biasa, tapi di keluarga yang sama ada juga yang kurang beruntung.
Di Keluarga besarku, kenyataan itu terjadi. Dari 8 orang adik mama, ada diantara mereka yang merupakan pengusaha sukses seperti Om Iwan yang punya beberapa perusahaan, termasuk satu perusahaan travel yang besar di Bali. Ada yg sukses sebagai birokrasi, seperti Om Asep yang mantan Ketua BULOG di salah satu propinsi. Ada juga professional yang cukup berhasil seperti Om Iman yang merintis karir dari bawah hingga sekarang bekerja di salah satu perusahaan Oil&Gas multinasional. Ada yang sukses merantau di negeri orang seperti Om Oi yang sekarang bekerja di London. Atau Om Ai, yang walaupun mempunyai bakat luar biasa sebagai seorang pelukis, tapi lebih memilih untuk membantu perusahaan Ate Vivi dan suaminya, Om Sapto. Sedang Mama & Bi Rita memilih untuk berkonsentrasi untuk berkarir sebagai ibu rumah tangga.
Ada satu adik mama yang mungkin kurang beruntung dalam hal finansial. Yup, Om Acang adik mama yang ke 5 hanyalah seorang supir yang bekerja di satu perusahaan di daerah Cikampek. I don’t say that it’s pathetic profession ya, tapi kita bisa membayangkan apalah yang bisa diharapkan dari gaji seorang supir untuk bisa menghidupi keluarganya itu sementara kebutuhan hidup sekarang sangatlah tinggi. Belum lagi untuk pendidikan anak – anak dan persiapan bekal di hari tua mereka nanti.
Tapi yang aku salut dari Om Acang adalah tanggungjawabnya yang besar sebagai seorang Suami dan ayah. Ketika dia menyadari bahwa penghasilannya mungkin kurang bisa diandalkan, even istrinya bekerja, dia selalu berusaha keras untuk mencari penghasilan tambahan di luar pekerjaan rutinnya. Apapun yang terlihat bisa menghasilkan uang dengan tanpa ragu pasti dia lakoni, prinsipnya apapun asal halal. Aku tidak pernah melihat kelelahan di raut mukanya selain tanggung jawabnya yang besar sebagai kepala rumah tangga.
Well, aku beruntung berada dalam keluarga besar yang kompak. Oma selalu mendidik kami untuk saling mengasihi satu – sama lain, even ayah atau kakek kami berbeda. Yup, mama & 3 orang adik pertamanya adalah anak Oma dari Abah. Sedangkan adik mama selanjutnya adalah anak Oma dari Opa setelah Oma & Abah bercerai. Tapi tidak pernah sekalipun aku melihat ada masalah dengan itu. Tidak ada istilah kandung atau tiri di keluarga besar kami. So, ketika ada anggota keluarga besar kami yang kesusahan pasti akan selalu ada solusi untuk itu. Tapi Om Acang tetaplah Om Acang yang selalu berprinsip untuk hidup dari sesuatu yang dihasilkan dari tangannya sendiri.
Hm, hidup memang kadang di atas atau di bawah. Namun, yang aku pelajari dari Om Acang adalah even ketika kita ada dalam posisi yang kurang beruntung, kita tetap harus berusaha semaksimal mungkin untuk terus memberikan kebahagiaan kepada keluarga. Kerja keras adalah kata kuncinya. I’m proud to you for that Om!
Di Keluarga besarku, kenyataan itu terjadi. Dari 8 orang adik mama, ada diantara mereka yang merupakan pengusaha sukses seperti Om Iwan yang punya beberapa perusahaan, termasuk satu perusahaan travel yang besar di Bali. Ada yg sukses sebagai birokrasi, seperti Om Asep yang mantan Ketua BULOG di salah satu propinsi. Ada juga professional yang cukup berhasil seperti Om Iman yang merintis karir dari bawah hingga sekarang bekerja di salah satu perusahaan Oil&Gas multinasional. Ada yang sukses merantau di negeri orang seperti Om Oi yang sekarang bekerja di London. Atau Om Ai, yang walaupun mempunyai bakat luar biasa sebagai seorang pelukis, tapi lebih memilih untuk membantu perusahaan Ate Vivi dan suaminya, Om Sapto. Sedang Mama & Bi Rita memilih untuk berkonsentrasi untuk berkarir sebagai ibu rumah tangga.
Ada satu adik mama yang mungkin kurang beruntung dalam hal finansial. Yup, Om Acang adik mama yang ke 5 hanyalah seorang supir yang bekerja di satu perusahaan di daerah Cikampek. I don’t say that it’s pathetic profession ya, tapi kita bisa membayangkan apalah yang bisa diharapkan dari gaji seorang supir untuk bisa menghidupi keluarganya itu sementara kebutuhan hidup sekarang sangatlah tinggi. Belum lagi untuk pendidikan anak – anak dan persiapan bekal di hari tua mereka nanti.
Tapi yang aku salut dari Om Acang adalah tanggungjawabnya yang besar sebagai seorang Suami dan ayah. Ketika dia menyadari bahwa penghasilannya mungkin kurang bisa diandalkan, even istrinya bekerja, dia selalu berusaha keras untuk mencari penghasilan tambahan di luar pekerjaan rutinnya. Apapun yang terlihat bisa menghasilkan uang dengan tanpa ragu pasti dia lakoni, prinsipnya apapun asal halal. Aku tidak pernah melihat kelelahan di raut mukanya selain tanggung jawabnya yang besar sebagai kepala rumah tangga.
Well, aku beruntung berada dalam keluarga besar yang kompak. Oma selalu mendidik kami untuk saling mengasihi satu – sama lain, even ayah atau kakek kami berbeda. Yup, mama & 3 orang adik pertamanya adalah anak Oma dari Abah. Sedangkan adik mama selanjutnya adalah anak Oma dari Opa setelah Oma & Abah bercerai. Tapi tidak pernah sekalipun aku melihat ada masalah dengan itu. Tidak ada istilah kandung atau tiri di keluarga besar kami. So, ketika ada anggota keluarga besar kami yang kesusahan pasti akan selalu ada solusi untuk itu. Tapi Om Acang tetaplah Om Acang yang selalu berprinsip untuk hidup dari sesuatu yang dihasilkan dari tangannya sendiri.
Hm, hidup memang kadang di atas atau di bawah. Namun, yang aku pelajari dari Om Acang adalah even ketika kita ada dalam posisi yang kurang beruntung, kita tetap harus berusaha semaksimal mungkin untuk terus memberikan kebahagiaan kepada keluarga. Kerja keras adalah kata kuncinya. I’m proud to you for that Om!


0 comments:
Post a Comment