Spiga
Showing posts with label Resensi. Show all posts
Showing posts with label Resensi. Show all posts

40 Days in Europe

Membaca buku ini membuat gw bangga menjadi orang Sunda dan Orang Indonesia. Buku yang juga menyadarkan gw betapa kebudayaan bangsa ini begitu membanggakan dan mampu menaklukkan daratan Eropa hanya dengan sekumpulan alat musik dari bambu, angklung.

Buku ini menceritakan 35 personel sebuah group Angklung dari SMA 3 Bandung, Keluarga Panduan Angklung SMA 3 Bandung (KPA 3) melakukan muhibah budaya, Expand the Sound of Angklung (ESA) selama 40 hari ke negara - negara Eropa dari Jerman, Belgia, Perancis, Scotland, Ceko, sampai Polandia. Mengikuti berbagai festival budaya atau melakukan konser pertunjukan Angklung. Dan mereka sukses melewati perjalanan panjang itu walaupun mereka mengalami kesulitan finansial.

Dan yang membanggakan adalah ketika di hampir semua pertunjukan dan festival budaya yang mereka ikuti itu, mereka mampu menyihir para penonton yang terkagum - kagum ketika menyadari kenyataan bahwa dari alat musik sederhana yang terbuat dari bambu dapat menghasilkan harmonisasi suara yang sangat indah.

Buku yang berupa catatan perjalanan yang ditulis oleh Maulana M Syuhada ini, seorang mahasiswa magister yang sedang kuliah di Jerman, bisa membuat gw ngga sabar untuk menghabisan halaman demi halaman yang ada. Kita seakan ikut merasakan bagaimana perjuangan mereka, suka dan duka dalam perjalanan itu.

Well, sekali lagi buku ini is a must read. Very inspiring and motivating! Menyadarkan gw bahwa impian sesulit apapun bisa terwujud selama kita punya motivasi, kerja keras dan semangat tinggi.

We Own the Night

Asli, film ini adalah salah satu film "crime drama" terbaik yang pernah gw tonton. Gw sampe memberikan applause secara spontan ketika film ini berakhir, padahal gw nonton sendiri di kamar gw dan tengah malam pula. Untung ngga ada tetangga yang protest, he3x.

Well, film ini bergenre crime drama not a crime action. Bercerita tentang sebuah keluarga yang mempunyai dua sisi yang berbeda. Peran utama pada film bercerita tentang seorang Bobby Green (Joaquin Phoenix) yang adalah seorang manager dari suatu nightclub di Brighton Beach, New York yang berdekatan dengan dunia narkotika. Sedangkan sang Ayah, Burt Grusinsky (Robert Duvall) adalah seorang kepala polisi di Brooklyn, New York dan saudara laki - lakinya, Joseph Grusinsky (Mark Wahlberg), adalah juga seorang polisi.

Suatu saat sang Ayah dan Joseph meminta Bobby untuk bekerjasama dalam memerangi narkotika yang begitu mewabah di kota mereka. Saat itu Bobby menolak dan memilih untuk tetap menjalani dunianya bersama dengan pasangannya, Amada (Eva Mendes). Sampai ketika polisi menyerbu night club tempat Bobby bekerja untuk menangkap seorang Russian gangster dan drug lord, Vadim Nezhinski (Alex Veadov). Penangkapan itu gagal dan malah membuat hubungan Bobby dan Ayah serta saudara lelakinya itu semakin buruk.

Kegagalan penangkapan Vadim itu malah mengakibatkan Joseph ditembak oleh anak buah Vadim. Penembakan itu gagal membuat Joseph mati, tapi membuat Joseph luka parah di bagian muka dan koma selama beberapa waktu. Peristiwa itu membuat Bobby merasa berdosa dan mau turut serta dalam menangkap gembong Narkotika di Kotanya. Dan ketika akhirnya Ayah mereka tertembak oleh gerombolan Vadim, Bobby malah menawarkan diri untuk menjadi umpan untuk menangkap Vadim bekerjasama dengan Joseph yang sudah sadar dari koma. Film itu berakhir ketika akhirnya Bobby bergabung menjadi anggota kepolisian.

Well, film yang sangat menyentuh dan kuat dalam menggambarkan hubungan antar personal. Hubungan antara Ayah dan anak lelakinya, antar saudara dan antar pasangan. Singkat kata, it's a must see!

Match Point: A Marvelously Sexy Thriller

Satu lagi film yang mengeksploitasi kecantikan dan keseksian seorang Scarlett Johansson, the one who listed in the 100 most beautiful woman on earth. Film ini bercerita tentang seorang pelatih tennis, Chris Wilton (Jonathan Rhys Meyers), yang juga melatih Tom (Matthew Goode), a rich young playboy. Dari Tom lah kemudian Chris berkenalan dan menjalin sebuah relasi yng "passionless" dengan adik perempuan Tom, Chloe (Emily Mortimer).

Dalam satu perjumpaan dengan Tunangan Tom, Nola Rice (Scarlett Johansson) yang adalah seorang aktris, Chris akhirnya jatuh cinta pada Nola. Dan dalam satu peristiwa dgambarkan ketika mereka having sex di sebuah ladang di tengah hujan deras. Sesuatu yang selalu Nola katakan sebuah peristiwa yang "hello, nothing can come on it!"

Beberapa waktu kemudian, Chris menikahi Chloe dan mendapatkan karir pada perusahaan ayah Chloe. Tapi setelah mendapati kabar bahwa Nola dan Tom sudah berpisah, Chris berusaha mencari Nola dan kemudian malah terjebak satu affair dengan Nola. Dan ketika Nola kemudian hamil, Chris kemudian terjebak dalam satu dilema yaitu melanjutkan kehidupan dengan karir yang menjanjikan bersama Chloe atau memilih untuk bersama Nola. Ketika Chris terombang ambing dalam dilema tersebut, Nola semakin gencar untuk menuntut Chris segera meninggalkan Chloe seperti apa yang telah Chris janjikan kepadanya.

Akhirnya ketika Chris memilih untuk melanjutkan hubungan yang nyaman bersama Chloe, Chris berniat untuk mengakhiri affairnya dengan Nola dengan cara membunuhnya. Cara itu berhasil, bahkan sampai akhir film ini Chris digambarkan berhasil mengelabui polisi dengan alibinya.

Well, jalan cerita film ini jamak terjadi di dunia nyata. Pernikahan yang pura - pura, affair, seorang miskin yang menjadi kaya ketika melalui pernikahan dll. But, gw enjoy this film just because of the beauty of Scarlett Johansson. She's trully a goddes! Gw sudah nonton hampir semua film yang dia bintangi lho, he3x

Hey There Delilah!

Note: Gosh, gw suka banget sama lagu Hey There Delilah nya Plain White

Hey there Delilah
What's it like in New York City?
I'm a thousand miles away
But girl, tonight you look so pretty
Yes you do
Times Square can't shine as bright as you
I swear it's true

Hey there Delilah
Don't you worry about the distance
I'm right there if you get lonely
Give this song another listen
Close your eyes
Listen to my voice, it's my disguise
I'm by your side

Oh it's what you do to me
Oh it's what you do to me
Oh it's what you do to me
Oh it's what you do to me
What you do to me

Hey there Delilah
I know times are getting hard
But just believe me, girl
Someday I'll pay the bills with this guitar
We'll have it good
We'll have the life we knew we would
My word is good

Hey there Delilah
I've got so much left to say
If every simple song I wrote to you
Would take your breath away
I'd write it all
Even more in love with me you'd fall
We'd have it all

Oh it's what you do to me
Oh it's what you do to me
Oh it's what you do to me
Oh it's what you do to me

A thousand miles seems pretty far
But they've got planes and trains and cars
I'd walk to you if I had no other way
Our friends would all make fun of us
and we'll just laugh along because we know
That none of them have felt this way
Delilah I can promise you
That by the time we get through
The world will never ever be the same
And you're to blame

Hey there Delilah
You be good and don't you miss me
Two more years and you'll be done with school
And I'll be making history like I do
You'll know it's all because of you
We can do whatever we want to
Hey there Delilah here's to you
This one's for you

Oh it's what you do to me
Oh it's what you do to me
Oh it's what you do to me
Oh it's what you do to me
What you do to me.


Tumpukan buku yang belum dibaca

Wew, ternyata buku yang belum gw baca masih numpuk, fiuh! Bahkan ada beberapa buku yang masih dibungkus rapi saking gw ngga sempet buka. Inilah akibat korban laper mata kalo pergi ke Gramed tapi ngga didukung sama komitmen dan disiplin untuk baca, he3x.

The Naked Traveler


Minggu lalu ketika ada tugas keluar kota, seperti biasa gw pergi kegramed buat beli buku yang akan jadi teman gw selama di perjalanan menuju kesana dan juga ngisi waktu - waktu kosong gw selama di kota itu. Salah satu buku yang gw beli adalah buku The Naked Traveler, kisah seorang wanita muda Indonesia yang berkeliling dunia. Buku itu diangkat dari blog seorang backpacker, bisa klik ke http://naked-traveler.blogspot.com/. Kesan gw setelah baca buku itu gw menjadi sangat terprovokasi untuk menjadi seorang backpacker keliling dunia. Damn, kenapa juga baru sekarang gw nemu buku itu yah!


Iri, dengki, jealous, rasanya pas baca pengalaman penulis buku itu. Dan menariknya, petualangan penulis buku itu dituliskan dengan bahasa yang mudah dicerna, lucu dan deskriptif. So, kita serasa ikut berkelana walau ngga pernah pergi tempat itu. Sejak baca cerita pertama, rasanya udah ngga sabar untuk membaca seluruh cerita yang ada di buku itu. Ngga heran, gw bisa membaca habis dalam tempo beberapa jam saja. Ketika di pesawat Jakarta - Semarang, di perjalanan Semarang - Tegal dan malam pertama di hotel Bahari Inn, Tegal.


Sigh, life is too short ya. What a pity if we not use some of our time to travel and see another breathtaking culture and scenary.
Mba Trinity, thanx for a magnificent story. Yes, someday i want to go travel as a backpacker!

The Diving Bell and the Butterfly

Ga tau kenapa, gw selalu suka sama film2 Perancis. Banyak hal yang terlihat berbeda dari film – film produksi Hollywood. Tema film yang diangkat selalu terlihat fresh, dan kreatif.

Film The Diving Bell and the Butterfly ini adalah salah satu film Perancis yang gw tonton beberapa waktu yang lalu, sebenarnya udah lama, cuma gw ngerasa berdosa kalo gw ngga menyebarkan film bagus ini ke orang lain (dah kaya ustadz aja ya, he3x)

Film ini bercerita tentang seorang pria, Jean Dominique, Mathieu Almaric, yang tubuhnya lumpuh total. Dia ngga bisa menggerakkan tubuhnya sama sekali. Dia tinggal memiliki satu mata saja, dan dengan mata itulah dia bisa berkomunikasi. Caranya, orang yang mengajak dia untuk berkomunikasi harus menyebutkan huruf2 dan berhenti ketika si Jean mengedipkan mata, dan begitu terus menerus hingga akhirnya tersusun satu kata atau kalimat.

Jean terlihat tegar tapi sesungguhnya dia merasa terperangkap dalam keadaan ini. Sungguh satu keadaan yang memilukan buat siapapun. Hm, to be honest ini adalah salah satu film drama terbaik yang pernah gw tonton. It’s very touching and lovely. Gw sampe speechless.


It's highly recommend!

If you love me follow me

Well, sekali lagi gw selalu suka sama film – film Perancis. Kisah – kisah yang diangkat selalu unik dan tidak Hollywood minded lah. Begitu pula film ini, "If you love me follow me" ( Qui m'aime me suive).

Film ini bercerita tentang seorang pria, Max (Mathieu Demy) di usianya pada pertengahan 30an, yang sudah mendapatkan segalanya. Karir sebagai seorang dokter yang sukses, kehidupan yang mapan dan seorang istri yang cantik yang juga seorang pengacara sukses, Anna (Romane Bohringer).

Ternyata apa yang sudah dia dapat tersebut bukan apa yang dia impikan. Max mempunyai impian untuk menjadi seorang musisi. Dan keinginan itu muncul lagi ketika pada suatu saat dia bertemu dengan seorang penyanyi di sebuah kafe, Chine (Eleonore Pourriat). Sampai akhirnya dia memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya sebagai dokter dan kemudian membentuk sebuah band dengan teman – teman lamanya. Tapi dia tetap merahasiakan itu dari istri dan keluarganya. He still pretending kalo dia adalah seorang dokter dan bekerja seperti biasa.

Sampai akhirnya istri dan orang tuanya akhirnya tau tentang rahasia Max ini. Endingnya? Hm, rada2 mengenaskan lah. Tapi film yang cukup menarik juga, karena topiknya dialami oleh banyak orang, tentang disorientasi karir dan tujuan hidup di umur 30an.

So, beruntunglah orang yang bisa mendapatkan karir atau bisnis dari apa yang dia impikan/cita - citakan. Thanx God, gw termasuk di golongan orang – orang yang beruntung itu. I love my Business, hell yeah!

American Gangster

Film ini diangkat dari satu kisah nyata dari seorang bandar narkotika kelas kakap, Frank Lucas (Denzel Washington) di Manhattan, pada dekade 60an sampai 70an. Kemampuan bisnis yang dia dapat dari mentornya membuat dia mempunyai insting bisnis yang sangat kuat. Menyadari suasana di lingkungan sekitar dia yang sangat dikuasai oleh heroin, Frank membuat satu keputusan bisnis untuk langsung membeli Heroin dari pusatnya di Asia Tenggara. Dengan memanfaatkan jaringan militer Amerika yang pada saat itu sedang menghadapi perang Vietnam. Dengan membeli langsung, dia mendapatkan kualitas heroin kelas satu dengan harga yang jauh lebih murah. Sehingga akhirnya heroin produksinya menguasai pasar di Manhattan. Dan tentu membuat dia menjadi sangat kaya raya.

Di saat yang bersamaan, seorang polisi yang dikenal sangat jujur, Richie Roberts (Russel Crowe), ditugaskan untuk memberantas perdagangan narkoba di wilayah itu. Awalnya dia dan timnya mendapat kesulitan, karena ternyata begitu banyak polisi di New York yang terlibat dalam sindikat perdagangan narkoba. Dan sulitnya karena orang – orang di sekitar Frank Lucas sangat loyal melindungi dia.

Sampai suatu ketika Richie menangkap seorang saudara Frank Lucas, dan dari situlah akhirnya bisa terungkap sindikat narkotika terbesar yang pernah ada di Amerika. Frank Lucas akhirnya tertangkap, tapi kemudian hukuman buat dia dikurangi karena dia sangat kooperatif dalam mengungkap anggota kepolisian yang terlibat sindikat narkotika.

Hm, what a great performance by Denzel Washington & Russel Crowe.

The Last King of Scotland

Forest Whitaker gives the performance of his life! It’s true

Yeah, definetely this is one of the best movie i ever seen! Sepertinya menonton sekali ngga akan pernah cukup. Banyak hal yang bisa dikenang dari film ini, tentang petualangan seorang dokter muda dari scotland, sampai acting nyaris sempurna dari seorang Forest Whitaker yang berperan sebagai Idi Amin seorang diktator Uganda yang kejam tapi ternyata menyimpan sense of humour, well ngga heran kalo dia mendapatkan sebuah piala oscar tahun 2006 (it’s worthed lach!)

Well, back to movie. Film ini bercerita tentang seorang dokter muda dari Scotland, Nicholas Garrigan (James McAvoy) yang setelah lulus sebagai dokter segera berangkat ke satu daerah pedalaman di Uganda untuk membaktikan ilmunya. Di saat yang bersamaan, di Uganda sedang terjadi kudeta terhadap pemerintahan yang dipimpin oleh Jendral Idi Amin (Forest Whitaker).

Satu peristiwa membawa Nicholas menjadi seseorang yang sangat dipercaya oleh Idi Amin. Selain karena dia adalah seorang Scottish, sebuah bangsa yang sangat dikagumi oleh Idi Amin karena keberaniannya. Sampai2 dia menyatakan dirinya sebagai ”the last king of Scotland”. Well, awalnya keadaan itu dinikmati oleh Nicholas. Betapa tidak, dia mendapatkan berbagai fasilitas negara dan berbagai hadiah dari Idi Amin. Sampai kemudian, Nicholas akhirnya menyadari bahwa seorang Idi Amin yang telihat begitu generous dan humoris adalah tidak lebih dari seorang diktator yang bengis dan kejam. Ketika Nicholas meminta izin untuk kembali pulang ke Scotlandia, Idi Amin tidak memberikan izin dan memintanya tetap tinggal di Uganda.

Sampai suatu ketika, Nicholas terlibat affair dengan salah satu istri Idi Amin, Kay (Kerry Washington) *pesan moral: kalo mau selingkuh jangan dengan istrinya diktator dong ah! Itu mah namanya bunuh diri, otreh*. Dan ngga lama Idi Amin mengatahui hal itu. Ketika Nicholas sedang menerima siksaan akibat perbuatannya itu, disaat yang bersamaan terjadi satu peristiwa pembajakan pesawat Air France oleh para pejuang Palestina, pesawat tersebut dipaksa mendarat di Uganda, suatu hal yang direstui oleh Idi Amin yang bersimpati terhadap perjuangan rakyat Palestina. Tapi kemudian Idi Amin membebaskan para penumpang non Yahudi dan menyiapkan satu pesawat tujuan Paris untuk mereka. Di saat itulah kemudian Nicholas, dengan dibantu seorang dokter Uganda, menyelinap kabur dengan menumpang pesawat tersebut.

Well, dalam sejarah disebutkan bahwa Idi Amin membunuh 300 ribu orang selama dia memerintah. Dan ketika dia dikudeta pada tahun 1979, rakyat Uganda bersuka cita.

What a great movie..

La Vie en Rose (eneng Marion anu geulis pisan)

Yeah, kembali hari sabtu di wiken kemarin gw isi dengan belanja persediaan dipidi yang stoknya udah menipis. Segera gw meluncur ke ITC BSD buat hunting Dipidi baru yang layak buat gw tonton. Dan betapa beruntungnya gw, karena gw bisa mendapatkan banyak film – film yang bermutu, bahkan film2 yang meraih oscar atau festival – festival film (thanks buat para pembuat film bajakan, he3x). Dan salah satu temuan berharga gw sabtu itu adalah ketika gw bisa dapet filmnya si eneng Marion Cotillard anu geulis tea yang baru aja dinobatkan sebagai aktris terbaik pada oscar 2008 yang baru lalu. Awalnya sempet ngga ngenalin si eneng, tapi pas diliat – liat di potonyah ternyata si eneng Marion itu pernah maen di salah satu film paporit gw sepanjang masa, “Love me if you dare!”. Duh eneng, udah geulis, jago acting lagi! Di kasih makan apa sih neng?

Back to movie! Hm, film yang gw certain diatas itu berjudul La Vie En Rose, film perancis yang bercerita tentang seorang diva perancis di quarter pertama abad 20, Edith Piaf. Cerita perjalanan hidupnya yang penuh duka dan derita (persis kaya sinetron deh), dari mulai masa kecil yang di sia – siakan ibu kandungnya, sampai terpaksa tinggal di tempat pelacuran, berkelana ikut ayahnya yang seorang pemain sirkus, dan menyanyi di jalanan untuk sekedar mendapatkan uang untuk makan sehari – hari.

Nasib baik kemudian mempertemukan Edith dengan seseorang untuk bisa bernyanyi di kafe dan theater. Dan akhirnya membuat seorang Edith menjadi penyanyi terkenal di masanya. Setting scene filmnya banyak jump ke masa lalu atau masa depan. Tapi yang pasti film ini masuk kategori ”it’s a must see!” ditambah akting si eneng yang hebat pisan pokoknya, para juri oscar 2008 kali ini bener2 ga salah pilih udah menobatkan dia jadi aktris terbaik tahun ini.


Eneng Marion, aku padamu..

Kamar tercintah, Selasa 12:15 AM

L'apartment=Tragically Romantic

Wiken ini ada satu film yang sangat berkesan buat gw, sebuah film Perancis dengan judul L’apartment. Sungguh, gw selalu suka dengan film – film berbahasa perancis ataupun film yang menyuguhkan pemandangan kota – kota di Eropa yang romantis. Satu hal yang memotivasi gw untuk someday gw pengen kesana dan merasakan nuansa itu.

Well, film ini menceritakan satu kisah cinta yang sangat complicated dan tragis. Tapi ini yang gw suka, film yang endingnya susah ditebak dan tidak harus berujung happy ending seperti film – film produksi Hollywood. Film ini dimulai ketika Max (Vincent Cassel) yang sudah bertunangan dan sedang dalam pembicaraan bisnis dengan partner dari Jepang, secara tidak sengaja “melihat” sesosok wanita yang ternyata adalah Lisa (Monica Bellucci), his greatest love ever, di suatu kafe. Tapi sayangnya, dia tidak berhasil berjumpa dan hanya menemukan satu petunjuk kunci hotel yang tertinggal. Sontak seluruh memori yang tersimpan di kepalanya muncul kembali dan membuat dia terobsesi untuk kembali berhubungan dengan Lisa. Dan melupakan semuanya, tunangannya dan bisnisnya. Dan berpura – pura berangkat ke Tokyo kepada tunangannya.

Max mencoba untuk menemukan Lisa hanya untuk mendapatkan satu jawaban kenapa waktu itu Lisa pergi meninggalkan dirinya tanpa meninggalkan pesan. Ceritanya menjadi kompleks, ketika Max berhasil menyelinap masuk ke apartment tempat Lisa tinggal. Sampai kemudian dia bertemu dengan Alice (Romane Bohringer) teman satu kamar Lisa. Max tidak menemukan Lisa tapi malah menjalin One night stand – relation dengan Alice yang ternyata malah pacar teman baiknya sendiri, Lucien (Jean-Philippe Ecoffey). Tapi menyimpan obsesi terhadap Max.

Cerita menjadi rumit, ketika Max yang punya kesempatan untuk bertemu Lisa memilih untuk menyusul Alice yang sedang bersiap berangkat ke Roma. Gw mengira sampai sini, cerita akan menjadi happy ending. Tapi ternyata pada saat bersamaan, dia malah bertemu kembali tunangannya (yang sengaja menjemputnya di Bandara karena masih mengira Max baru tiba dari Tokyo), dan memilih untuk tetap bersama dengan tunangannya yang sama sekali ngga tau obsesi Max terhadap Lisa dan hubungan singkatnya dengan Alice.

Hm, baca resensi gw malah jadi bingung ya? Supaya ga bingung, buruan cari filmnya. Sambil menikmati kisah cinta yang rumit, kita bisa menikmati keindahan sosok Monica Belucci, wanita pujaan jutaan pria di seluruh dunia.

Kesimpulan filmnya? It’s tragically romantic!

Traveller’s Tale, Belok Kanan: Barcelona

Buku ini bercerita tentang empat orang sahabat dari kecil. Jusuf alias Ucup, Francis, Farah dan Retno. Di masa SMA, ternyata mereka saling jatuh cinta. Farah jatuh cinta dengan Francis, tetapi Francis malah jatuh cinta dengan Retno dan sempat menyatakan cintanya sampai 2 kali, tapi dua kali itu juga Retno menolaknya karena perbedaan iman diantara mereka, sedangkan Jusuf sendiri jatuh cinta dengan Farah, tapi tidak pernah bisa menyampaikan cintanya.

Lama mereka tidak bertemu, sampai suatu ketika Francis mengirimkan satu email ke para sahabatnya itu dan mengabarkan dia akan segera menikah dengan seorang gadis Spanyol, Inez dan mengundang mereka untuk datang ke pernikahannya di Barcelona. Sejak itu dari berbagai penjuru; Farah di Budapest, Jusuf dari Abidjan, dan Retno di Kopenhagen yang sedang bersiap travelling keliling Eropa; bertekad untuk ke Barcelona dengan misinya masing - masing. Farah yang ingin menyatakan cintanya pada Francis dan mencoba sebisa mungkin menggagalkan pernikahan dia, Jusuf yang mencoba mencegah Farah berbuat itu sekaligus mencoba menyatakan cintanya pada Farah dan Retno yang ingin membuktikan pernyataan Francis yang masih menyimpan cinta untuk dirinya.

Ending cerita, akhirnya Francis membatalkan pernikahan dia dengan Inez dan berharap dia bisa mendapatkan cinta Retno. Farah yang akhirnya menyadari cinta Francis begitu besar pada Retno dan akhirnya luluh setelah Jusuf menyatakan cinta kepadanya. Sedang Retno, masih teguh pada prinsip yang ga bisa menikah dengan Francis betapapun besarnya cinta dia kepadanya.

Ketika buku ini selesai gw baca, ada satu kesan mendalam yang gw tangkap yaitu: gw menjadi sangat terprovokasi untuk bisa merasakan pengalaman menjadi seorang traveller - backpacker. Bisa merasakan keindahan belahan dunia lain beserta budayanya seperti yang diceritakan buku ini; dari mulai Budapest, Vietnam, Cape Town, Nairobi, Abidjan, Copenhagen, Kansas, Georgia, Amman, Miami, Vienna, Paris sampai Barcelona. Dan satu lagi, teringat lagi kisah gw bersama Vie yang walau sebesar apapun cinta kami, tapi satu perbedaan ternyata meluruhkan semuanya. Kami ngga bisa menikah karena Tuhan kami berbeda *sigh*

Singkatnya, It’s a must read book!

Ketika Pernikahan terlihat begitu sangat membosankan..

Well, salah satu activity buat cowo single twenty something di saat weekend adalah nonton Dipidi dan baca buku. It’s seem so boring ya, but I’m just trying to made my weekend becomes valuable. Daripada nongkrong dan keluyuran ga jelas, mendingan dipake buat nonton film atau baca buku kan. Wiken ini secara ga disengaja semua film yang gw tonton berkisah tentang pernikahan yang membosankan dan berujung pada perselingkuhan. Hm, buat seorang twenty something - single guy, itu bisa diambil sebagai satu pelajaran sebelum mengambil keputusan untuk menikah. Isn’t it?

Let’s back to the movie ya, film pertama yang gw tonton bergenre comedy “The Heart Break Kid”. Film ini berkisah tentang Eddie (Ben Stiller) seorang pria berumur 40 tahun yang belum pernah menikah dan terus mendapat dorongan dari ayahnya, Doc (Jerry Stiller) dan sahabatnya, Mac (Rob Corddy) untuk segera menikah. Someday, Eddy secara tidak sengaja berkenalan dengan seorang wanita, Lila (Malin Akerman). Dia cantik, blonde dan adorable, yang sepertinya menjadi sosok wanita idaman yang selama ini dia cari. Singkatnya, setelah beberapa minggu berkenalan akhirnya mereka memutuskan untuk menikah. Suatu keputusan yang terlihat begitu terburu – buru. Dan hal itu terlihat ketika tidak lama setelah mereka menikah, mereka berbulan madu. Eddie, melihat banyak hal dari Lila yang tidak sesuai dengan ekpektasinya. Puncaknya terjadi ketika selama masa bulan madu itu, Lila terpaksa harus selalu tinggal di kamar karena kulitnya terbakar akibat radiasi sinar metahari ketika sedang berjemur. Disaat itu, Eddie bertemu dan setelah beberapa saat melewatkan waktu bersama, dia jatuh cinta dengan Miranda (Michelle Monaghan) yang tidak tau Eddie datang ke Cabo – Meksiko untuk berbulan madu. Eddie merasa pernikahan dia yang terburu – buru itu adalah sebuah kesalahan. Akhirnya dia memutuskan untuk bercerai dari Lila, tapi disatu sisi Miranda menjadi sangat kecewa ketika tau Eddie ternyata sudah menikah. Dia kehilangan Lila dan Miranda pada saat yang bersamaan. Selanjutnya? Eddie terdampar di Meksiko selama berbulan – bulan akibat dompet dan semua isinya termasuk pasport di bakar oleh Lila. Sampai akhirnya dia berusaha kembali untuk mendapatkan cintanya kepada Miranda.

Film kedua yang gw tonton masih bergenre comedy yang berjudul I Think I Love My Wife. Film ini bercerita tentang seorang pria, Richard (Chris Rock) yang memiliki keluarga yang terlihat bahagia dan sempurna. Istrinya, (Gina Torres) cantik dan sempurna sebagai seorang istri dan semakin lengkap dengan sepasang anak yang lucu. Mereka sudah menikah selama 7 tahun lamanya. Tapi ternyata dibalik tampilan pernikahan yang terlihat bahagia itu, mereka terjebak ke dalam satu rutinitas yang membosankan. Dan ada satu hal yang menjadi pemicu kebosanan mereka yaitu ternyata sudah lama mereka tidak having sex dengan alasan lelah setelah menjalani aktivitas sehari – hari. Dan hal itu yang membuat Richard berpikir untuk mendapatkan hal itu dari wanita lain, yah secara dia juga pria normal. Suddenly, dalam masa – masa itu seorang teman lama yang bersosok wanita sexy, Nikki (Kerry Washington) muncul kembali dalam kehidupan Richard. Dia begitu menggoda dan menggairahkan. Richard berada di suatu keadaan dimana dia tidak ingin mengkhianati istri yang sangat dia cintai tapi disisi lain gejolak libido dia sebagai seorang pria normal yang lama tidak mendapatkan sex dari istrinya mengganggu pikirannya. Kebersamaan mereka semakin intens tapi sejauh itu Richard masih bisa bertahan untuk tidak tergoda sampai satu saat, Eva yang akhirnya bertunangan dan akan pindah ke Miami, menawarkan satu moment perpisahan sebagai ucapan terimakasih dia terhadap Richard. Saat itu pertahanan Richard akhirnya runtuh, dia begitu bergairah. Sampai ketika Richard dan Nikki sudah bersiap untuk having sex, ada satu moment yang mengingatkan Richard terhadap anak – anaknya. Dia memutuskan pergi dan meninggalkan Eva untuk kembali terhadap keluarganya. Di akhir film digambarkan ternyata selama ini terjadi miskomunikasi diantara Richard dan istrinya. Istrinya mengira jika selama ini Richard yang tidak menginginkan hal itu. Hm, pelajaran bagus dari film ini adalah komunikasi antar pasangan adalah sesuatu yang sangat vital even dalam keluarga yang “terlihat” begitu bahagia dan sempurna. Got it?

Film ketiga yang gw tonton adalah sebuah Film Austria yang berbahasa Jerman dengan judul Antares. Film yang bercerita tentang tiga potret kehidupan. Potret pertama tentang seorang wanita, Eva (Petra Morze) yang ada di satu pernikahan yang terlihat baik – baik saja. Dia adalah seorang perawat di satu rumah sakit dengan suami dan satu anak yang beranjak remaja. Tapi sekali lagi, dalam film ini digambarkan betapa kehidupan pernikahan mereka terjebak dalam satu rutinitas sehari – hari. Suatu haru seseorang dari masa lalunya, Tomasz (Andreas Patton) yg kebetulan berada di Vienna, datang kembali ke kehidupannya. Mereka terlibat affair dalam satu hubungan singkat yang begitu menggairahkan selama Tomasz berada di Vienna. Eva merasa she’s never having sex like that before. Karena itu dia begitu tergoda untuk meninggalkan kehidupan pernikahan dia yang begitu membosankan itu. Dan walau suaminya akhirnya tau tentang affair itu, sampai akhir film tidak digambarkan bagaimana hubungan dia dengan suaminya itu. Potret yang kedua adalah tentang pasangan muda yang tinggal bersama, dimana Sonja (Susanne Wuest) adalah seorang yang sangat pencemburu terhadap pasangannya, Marco (Dennis Cubic). Dia berpikir dengan kehamilannya yang pura – pura itu bisa terus mengikat pasangannya untuk selalu cinta kepadanya. Sampai suatu ketika, dia mengetahui bahwa selama ini pasangannya itu ternyata mempunyai seorang wanita lain yang berusia lebih tua, Nicole (Martina Zinner) yang sedang dalam proses perceraian dengan suaminya, Alex (Andreas Kiendl). Ketika dia mengetahui hal itu, dia memutuskan untuk mencoba bunuh diri dan itu membuat Marco begitu menyesal dan merasa takut kehilangan. Potret yang ketiga, menceritakan kehidupan pasangan yang sudah bercerai tetapi sang pria, Alex (Andreas Kiendl) masih berharap mantan istrinya mau kembali kepadanya. Dan dia melakukan apapun untuk itu, walau dengan sedikit pemaksaan dan kekerasan fisik, satu hal yang dibenci oleh mantan istrinya itu. Sampai suatu ketika dia mengetahui kalau mantan istrinya itu sudah mempunyai seseorang yang lain, dan itu membuat dia begitu emosional dan puncaknya adalah ketika dalam kondisi emosional dia mengalami kecelakaan mobil dan meninggal dunia. Well, menariknya dalam film ini ketiga potret itu saling berhubungan satu sama lain dan itu dikemas dengan sangat bagus. Hm, no wonder kalo film itu berhasil memenangkan beberapa penghargaan di berbagai festival film. It’s a must see!

Film ke empat yang gw tonton berjudul “The Painted Veil” sebuah film yang gw pikir adalah salah satu film terbaik yang pernah gw tonton dan terbukti ternyata film itu mendapatkan beberapa nominasi di Oscar dan Golden Globe. Film ini bersetting di London dan Shanghai, China di tahun 1920an. Film yang bercerita tentang seorang British Woman, Kitty Garstin (Naomi Watts) yang karena “paksaan” dari orang tuanya akhirnya menikah dengan seorang bakteriologis, Dr. Walter Fane (Edward Norton) setelah berkenalan singkat di suatu pesta yang diadakan oleh keluarganya di London. Segera setelah menikah, mereka berangkat ke Shanghai untuk meneruskan tugas sang suami. Walter, sang suami terlihat begitu kaku dan dingin, hal itu membuat Kitty tidak nyaman dalam pernikahan itu. Suatu saat, Kitty berkenalan dengan seorang pria yang sudah beristri, Charles Townsend (Schreiber) dan jatuh cinta kepadanya. Merekapun terlibat dalam satu affair, dan Kitty merasa dia begitu bahagia dengan hubungan itu. Sampai ketika Walter mencium perselingkuhan itu dan sebagai bentuk “hukuman” dia mengajak istrinya ke sebuah daerah di pedalaman China yang sedang dilanda wabah kolera yang mematikan. Sebelumnya, Walter setuju untuk bercerai dengan Kitty dengan syarat, Charles bercerai dengan istrinya dan bersedia menikahi Kitty. Tapi ternyata Charles ngga lebih dari seorang pengecut dan itu sangat mengecewakan Kitty. Dan dia memutuskan untuk mengikuti suaminya bertugas. Selama berada di kota kecil itu, Kitty merasa dia terus menerus “dihukum” suaminya akibat perselingkuhan yang dia lakukan. Kehidupan disana begitu membosankan karena dia dibiarkan “sendiri” melawati hari – harinya sedangkan suaminya tenggelam dalam pekerjaannya. Tapi bener seperti orang Jawa bilang, cinta itu datang karena biasa. So, karena selalu bersama, Kitty lambat – laun mengagumi suaminya dan pekerjaannya itu. Dan diapun mulai mencintai suaminya. Tapi itu menjadi seperti terlambat, karena ngga lama setelah mereka mulai saling mencintai, Walter terjangkit penyakit kolera dan akhirnya meninggal dalam pelukan Kitty yang sedang hamil 2 bulan dari anak yang dia sendiri tidak mengetahui dengan pasti siapa ayahnya. Dan Walter tau tentang hal itu. Sampai akhirnya setelah suaminya dikuburkan, Kitty kembali ke London dan membesarkan anaknya seorang diri. Hingga suatu saat dia bertemu dengan Charles, pria yang dulu menjalin affair dengannya, tapi kondisi sudah berubah karena Kitty sekarang sudah bisa menyadari kepada siapa sebenarnya dia jatuh cinta.

Hm, salah satu alasan kenapa gw begitu suka menonton film karena dari film kita bisa belajar banyak hal yang kita sendiri tidak harus mengalami atau bahkan tidak ingin mengalaminya. Film seperti suatu sketsa kehidupan yang bisa memperkaya referensi kita tentang hidup itu sendiri.

Terimakasih film, terimakasih Hollywood, terimakasih Glodok.

Glodok Vaganza..

Hari minggu kemarin, setelah bangun kesiangan karena semaleman maen gem Football Manager terbaru versi 2008, aku memutuskan pergi ke Glodok untuk menambah koleksi dipidiku sekaligus untuk persediaan menghadapi libur panjang Natal dan Tahun baru. Tadinya aku berencana untuk menghadiri resepsi teman kuliahku, Olav, namun batal aku lakukan karena sepanjang siang itu hujan deras mengguyur serpong. Begitu hujan reda, kira – kira jam 3 aku berangkat ke glodok. I’m so sorry bro..

Oia, buat yang belum pernah hunting dipidi langsung ke pusat pembajakannya yang konon terbesar di Asia Tenggara, ada beberapa lokasi penjualan Dipidi bajakan disana. Tapi karena sumbernya sama, harganya juga bisa dibilang seragam yaitu 5000 perak per keeping, kalo beli 10 dapet bonus 1. Murah kan, he3x

Sampe di Glodok Plaza, aku langsung menuju toko langganan yang menurutku koleksinya cukup lengkap. Wuiih, aku langsung laper mata begitu liat koleksi dipidi yang bejibun. Dan you know what perburuan aku hari minggu kemarin dengan sukses menghabiskan uang 250 ribu perak saja yang berarti 50 keping dipidi (ditambah bonus 5 keping dipidi). Koleksi film yang aku beli cukup variatif dari mulai film comedy, drama, action dll. Tapi seperti biasa, perburuan aku kemarin lebih banyak memfokuskan untuk film – film yang pernah ikut serta dalam suatu festival film, dari festival film besar such as academy award, cannes, berlin sampai festival film indie.

Setelah 3 jam berada disana dan dahagaku untuk menambah koleksi filmku itu terpuaskan, aku memutuskan untuk pulang. Selama di jalan, aku malah membayangkan “berapa lama waktu yang aku perlukan untuk menghabiskan 50an keping dipidiku itu ya?” Ayo tebak, he3x

Lesbianism is double sexy

If woman is a sexy creature, so lesbianism is double sexy!

So What’s your opinion about lesbianism?

Well, salah satu jawaban tentang itu bisa dilihat di film ini, “Kissing Jessica Stein “ versi DVD yang baru aku beli hari minggu kemarin. Film ini menceritakan dua alasan yang berbeda kenapa sepasang wanita akhirnya memilih untuk menjadi lesbian.

Jessica Stein (Jennifer Westfeldt), twenty something woman, adalah seorang wanita karir yang sukses dan hidup di kota megapolitan New York. Tapi walau begitu dia masih memegang tradisi yang kuat sebagai seorang Yahudi yang taat dan konservatif. Jessica beberapa kali mengalami kegagalan dalam usahanya mencari pasangan hidupnya. Berkali – kali kencan yang dilakukannya bersama beberapa pria selalu gagal karena mereka tidak memenuhi ekspektasinya terhadap seorang pasangan hidup.

Suatu saat dia bertemu dengan Helen (Heather Juergensen), thirty something, seorang art gallerist. Helen digambarkan seorang yang mempunyai libido berlebih dan selalu bergairah. Dia mempunyai hubungan dengan beberapa pria sekaligus, untuk bersenang – senang dan sex. Hubungan mereka berdua semakin lama semakin klik, karena banyak hal yang diinginkan dari seorang pasangan ideal ada di diri Helen. Bahkan akhirnya hubungan mereka meningkat menjadi lebih intim dan ada sex didalamnya. Terlihat, Jessica memilih untuk menjadi lesbian karena dia membutuhkan seseorang untuk bisa mendampingi dia sebagai pasangan dan dia tidak mendapatkan itu dari seorang pria, sedangkan Helen memilih menjadi Lesbian untuk mendapatkan variasi lain dalam kehidupan sexnya.

Pada awalnya Jessica menutupi hubungan mereka, karena dia berasal dari keluarga yahudi yang taat dan konservatif. Tapi akhirnya Ibunya dapat mencium hubungan mereka itu dan surprisingly dia merestui Helen untuk masuk sebagai anggota keluarga mereka. Dan sejak itu lah Jessica dan Helen menjadi lebih terbuka dengan hubungan mereka. Bahkan akhirnya mereka memutuskan untuk tinggal bersama. Walau hubungan mereka terlihat baik dalam segala hal, tapi kehidupan sex mereka tidak bergairah. Jessica masih belum sepenuhnya menikmati hubungan mereka, sedangkan Helen membutuhkan keintiman lebih.

Akhirnya hubungan itu harus berakhir ketika Helen memutuskan untuk mengakhirinya. Jessica sempat patah hati tapi akhirnya dia menyadari jika sebenarnya dia mencintai Helen as a friend and not a lover. Dan setelah hubungan mereka berakhirpun, mereka tetap bisa berteman baik.


Hm, film yang ringan walau pada awalnya berjalan begitu lambat. Namun film ini bisa memberikan kita pandangan lain tentang homosexual dan lesbianism.

Love me If You Dare!

Better than sex
Better than love
Better that life itself
Are u Game?


Malem tadi, sambil nunggu mata ini merasakan kantuk, iseng – iseng aku mengecek koleksi dipidi-ku. Sempat melihat – lihat beberapa film sampai akhirnya aku memutuskan untuk menonton ulang (entah untuk yang keberapa kalinya) sebuah film perancis “Love me if you dare!” (Jeux d’enfants) one of my favourite film ever. Film tentang “endless love” yang sangat indah, seindah pemandangan gedung – gedung gothic di Perancis dan tentu logat bahasanya yang konon katanya paling romantis sedunia.

Well, langsung aja ya aku share jalan cerita film itu.

Sepasang anak berusia 8 tahun, Sophie (Josephine Lebas-Joly) dan Julien (Thibault Verhaeghe) yang seakan ditakdirkan untuk terus bersama sejak pertama kali mereka bertemu ketika Julien membela Sophie yang sedang di ejek oleh sekelompok anak sebagai “dirty polack” just because she is a polish (polandia). Dan sejak itu pula “permainan” dimulai. Setiap saat mereka bertukar sebuah mainan simbolik, maka seseorang yang mendapatkan mainan tersebut harus juga mengambil “dare” dan melakukan apapun yang diminta lawan mainnya. “Dare” mereka mulai dari kencing dicelana ketika dipanggil kepala sekolah, mengucapkan kata – kata porno di dalam kelas, mengacaukan pernikahan kakak perempuan Sophie dll.

Ketika mereka dewasa, permainan itu semakin menjadi – jadi dan tantangannya semakin memicu adrenalin. Tapi ternyata kemudian mereka menyadari kalo mereka saling tertarik walau awalnya mereka terlihat tidak mengakui hal itu hingga akhirnya Sophie (ketika dewasa diperankan oleh Marion Cotillard) ”dare” Julien (Guillaume Canet) untuk tidak bertemu selama 1 tahun. Dan kenyataannya 4 tahun kemudian mereka baru bisa bertemu lagi. Saat itu ternyata dimanfaatkan Julien untuk menyakiti hati Sophie dengan memintanya untuk menjadi saksi pernikahan dia dan istrinya dengan cara seakan – akan Julien memproposed Sophie untuk menikah dengannya (it’s one of my fave scene!). Ketika akhirnya Julien menikahi wanita itu, Sophie dengan lantang berteriak ”No” ketika pendeta yang memberkati pernikahan mereka itu bertanya pada audien jika ada diantara mereka yang menentang pernikahan itu. Adegan selanjutnya menggambarkan Ayah Julien yang marah besar, Julien yang terlihat bingung dan kecewa hingga selanjutnya Sophie memberi satu ”dare” lagi untuk Julien supaya mereka tidak bertemu selama 10 tahun.

Selama 10 tahun itu, Julien menjalani pernikahan yang terlihat bahagia dengan karir yang mapan, istri yang cantik dan kedua anak yang lucu. Walau ternyata selama itu pula Julien tidak bisa menepis bayang – bayang Sophie dari pikirannya dan menunggu saat dimana mereka bisa kembali bertemu. Dan ketika akhirnya saat yang dinanti itu tiba, bang! Game itu kembali dimainkan.

Akhir cerita film itu menggambarkan sesuatu yang bisa diinterpretasikan secara berbeda. Sang sutradara seakan mempersilahkan penontonnya untuk memilih sendiri, apakah film itu berakhir tragis atau happy ending. Bayangkan adegan penutup dimana Sophie & Julien berada di bawah lubang sebuah areal project konstruksi dan perlahan – lahan lapisan semen menutupi tubuh mereka berdua yang sedang berciuman sambil berpelukan dan mengubur mereka didalamnya. Menggambarkan cinta mereka yang seolah hanya dipisahkan oleh kematian? Well, artikan sendiri ya.

My Room
November 14, 2007
11:12 PM

When Harry met Sally

November 13, 2007

Malam minggu kemarin, kira – kira jam 11 malem secara ga sengaja aku menonton Film “When Harry Met Sally” di Trans TV. It's one of the best romantic comedies of all time! Aku pun sudah menontonnya beberapa kali sebelumnya.

Well, singkat aja film itu menggambarkan kisah antara Harry (Billy Crystal) dan Sally (Meg Ryan). Mereka pertama kali bertemu dalam perjalanan dari Universitas Chicago menuju New York City dan Harry waktu itu masih berstatus pasangan dari sahabatnya Sally. Dalam perjalanan itu mereka berdebat tentang bisakah pria dan wanita menjadi “ sekedar” teman ? Buat Harry hal itu adalah sesuatu yang mustahil sedangkan bagi Sally itu mungkin2 saja.

Setelah perjalanan itu, mereka bertemu lagi ketika Harry baru saja ditinggal selingkuh istrinya dan Sally baru pisah dari pasangannya. Kemudian mereka memutuskan untuk bersahabat, sesuatu yang awalnya tidak di percayai mereka. Sampai akhirnya terjadi peristiwa dimana they slept together, hm will sex ruin their perfect relation ship? Setelah itu konflik terjadi, mereka sempat menyesali walau pada akhirnya mereka menyadari kalo mereka memang saling tertarik, sesuatu yang selalu mereka deny selama itu. Dan akhirnya dari yang awalnya saling bermusuhan, berteman baik sampai akhirnya mereka menikah.

Well, menurutku film ini adalah salah satu film terbaik untuk genre komedi romantis. Film yang mengukuhkan Meg Ryan sebagai aktris spesialis komedi romantis karena setelah itu Meg Ryan main di beberapa film dengan genre yang sama such as When a man loves a woman, You’ve got Mail, Sleepless in Seatle, French Kiss dll. Oia, ada beberapa adegan yg memorable dalam film ini, salah satunya tentu adalah adegan ketika di suatu restoran Sally membuktikan kepada Harry kalo dia juga menikmati orgasm, wow! That’s awesome, he3x Melihat akting Meg Ryan saat mendesah, mengerang dan berteriak saat orgasme..aarggh!

I still have a question “Can a man and woman ever just be friends?” Menurutku, kalo tidak ada sedikitpun ketertarikan secara fisik, it could be. But once we crush on her then you can’t be just a friend.

So what’s you’re opinion about that?

What would you do if u lost your beloved one?


Lebaran hari pertama di Bandung

Setelah ngobrol ngalor ngidul ga keruan, aku, Om Oi, Om Ai, Irma dan Irna, memantapkan tekad untuk keluar menembus dinginnya udara di cimahi untuk mencapai satu tujuan: Nonton Midnight di Blitz Megaplex.

Keluar dari rumah jam 11 malem,kami sampe di Blitz jam 11.30, ngebut banget deh pokoknya! Sampe sana, sempet bingung milih film apa, akhirnya kami pilih nonton film The Brave One karena tertarik sama nama besar Jodie Foster.

Filmnya maen jam 12.30, so sambil nunggu waktu kami ngupi – ngupi dulu di pelataran luar dan it’s so damn cold out there! Aku memaki – maki diri karena dengan pedenya keluar rumah cuma pake jerseynya MU kesayangan..hu..hu..dingin banget

Sejam ngupi – ngupi, dan ngemil french fries, kami langsung masuk bioskop karena filmnya udah mau mulai. Mataku dah rada ngantuk juga, aku berharap filmnya rame supaya ga ketiduran di bioskop

Well, I’ll telling u about the movie ya..

Film itu bercerita tentang seorang penyiar radio di New York, Erica Bain(diperankan dengan excellent oleh Jodie Foster) yang hidup bahagia dengan kekasihnya, David Kirmani (Naveen Andrews) dan mereka berencana buat menikah dalam waktu dekat.

Sampai suatu malam ketika mereka berjalan di taman kota, mereka menyadari anjing kesayangan mereka lenyap dari pandangan. Mereka sibuk mencari anjing itu sampai akhirnya mereka melihat anjing mereka itu ada di ujung terowongan tua yang ada ditaman itu. Ternyata anjing mereka ditangkap oleh tiga orang preman yang meminta uang dengan paksa, hingga kemudian terjadi perkelahian yang tidak seimbang antara 3 orang preman dengan pacarnya itu. Saking brutalnya, pacarnya mati ditempat dengan kondisi mengenaskan sedangkan Erica koma selama 3 bulan dengan kondisi yang tidak kalah mengenaskan.

Ketika siuman dan mendapati dirinya berada di suatu rumah sakit, Erica harus menerima kabar bahwa pacarnya sudah meninggal. She was desperate, miserable bercampur dengan dendam yang berkecamuk di hatinya. Parahnya lagi, pihak kepolisian seperti tidak bisa berbuat apapun untuk menemukan 3 orang preman pelaku pembunuhan itu.

Erica kecewa hingga akhirnya dia memutuskan untuk “menyelesaikan sendiri”, dan kemudian membeli pistol secara illegal di sebuah took senjata. Sepertinya Tuhan menakdirkan Erica untuk berada dalam satu keadaan dimana dia harus terlibat dalam “pertarungan” dengan para pelaku kejahatan. Kondisi pertama, ketika secara tidak sengaja Erica memergoki satu pembunuhan yang dilakukan seorang pria kepada istrinya di suatu swalayan, kondisi yang membuat dia berada dalam satu keadaan "membunuh atau dibunuh". Kedua, Erica terpaksa membunuh 2 orang preman yang berniat mengganggunya di subway kota Newyork. Ketiga, Erica terpaksa membunuh seorang pemabuk yang berniat membunuh dia dan seorang pelacur yang dia selamatkan dari pemabuk itu. Keempat, dipicu oleh dendamnya yang meluap kepada orang jahat, dia membunuh seorang penjahat kelas kakap.
Pertemuannya dengan detective Sean Mercer (Terrence Howard) yang juga sedang menyelidiki keempat pembunuhan tadi, sempat membuka harapan Erica untuk menemukan pembunuh kekasihnya itu. Suatu ketika polisi berhasil menangkap salah seorang pelaku pembunuhan kekasih Erica, tapi ketika Erica diberitahu oleh polisi, dia memilih untuk “menyelesaikannya” dengan tangannya sendiri. Erica melacak sendiri keberadaan para pelaku tersebut dan akhirnya berhasil menemukan para penjahat itu.

Bagaimana akhirnya? Well ga seru kalo aku sampaikan disini, tapi yang pasti klimaks di film itu sangat unpredictable dan mengharukan. Film ini dengan baik menggambarkan bahwa ketika kita kehilangan seseorang yang kita kasihi dengan cara yang tidak bisa kita terima, kita bisa memilih untuk melanjutkan hidup tapi dengan jiwa yang kosong selama bertahun - tahun, atau memilih menuntaskan dendam kita untuk kemudian menjadi orang yang baru sama sekali.

What a great movie, ga rugi deh nonton sampe jam 3. Jodie Foster memang jaminan mutu.

Sampe Cimahi jam 3.30, mau nonton bola udah keburu ngantuk. zzz...zzz...zzz
My Room, October 16 2007

Conversation with God

Conversation with God is an incredible emotional journey, based on a true story book that inspired millions comes a film that will change our life. Simply it’s a must see movie!

Neale Donald Walsch, harus menjalani saat – saat berat dalam hidupnya ketika dia mengalami kecelakaan mobil yg mematahkan lehernya. Suatu kondisi yang membuat dia kehilangan pekerjaannya. Hal itu kemudian membuatnya terusir dari apartemennya dan hidup menggelandang di sebuah camp tunawisma.

Betapapun dia mencoba mencari pekerjaan untuk menghidupi dirinya, dia selalu gagal mendapatkannya, bahkan untuk pekerjaan yg sepertinya tidak sesuai dengan kualifikasi yg dimilikinya. Kesulitan mendapatkan pekerjaan itulah yg akhirnya memaksanya menjadi pemulung hanya untuk mendapatkan kaleng bekas minuman, bahkan untuk sekedar mendapatkan sisa – sisa makanan, could u imagine it? Dalam film ini digambarkan dengan sangat mengharukan saat dimana Neal memakan sandwich sisa yang ia temukan ketika sedang mengais – ngais tong sampah!

Selama Neale tinggal di camp tunawisma tersebut dia tetap selalu mencoba mencari pekerjaan untuk bisa hidup dengan layak. Sampai suatu ketika dia mendapatkan weekend job pada suatu stasiun radio. Keadaan seperti kembali normal untuk beberapa saat saja, Neil mendapatkan penghasilan untuk bisa hidup normal, keluar dari camp tunawisma dan mampu menyewa sebuah apartemen. Sampai tiba – tiba di suatu pagi ketika Neil sampai di kantor barunya, dia mendapati kantor tersebut terkunci dan ada tulisan BANKCRUPT di pintu masuknya. Neil marah dan kecewa, begitu kecewanya sampai akhirnya pada suatu malam dia mempertanyakan ketidakadilan yang dia alami kepada Tuhan. Dan seperti keajaiban, tiba – tiba, Neil terlibat satu dialog besama Tuhan dan Tuhan memberikan jawaban atas pertanyaan yang Neil ajukan kepadanya. Singkatnya dialog bersama Tuhan itulah yang kemudian Neil catat dan disusun menjadi satu buku yang kemudian menjadi best seller. Dan dari buku itulah Neil dapat mengubah kehidupannya, dari seorang pecundang menjadi seorang pengarang buku yang terkenal.

Adegan terbaik menurutku adalah ketika tiba – tiba seorang wanita paruh baya mendatangi Neil yang sedang berdialog dengan para penggemarnya di suatu toko buku di Rusia.

Wanita itu berkata” Neil, bisakah kau terangkan kepadaku mengapa Tuhanmu yang baik itu membuat aku menderita saat ini”

“Aku adalah seorang ibu yg mengadopsi seorang anak ketika aku diberitahu bahwa aku tidak akan pernah bisa mempunyai anak langsung dari rahimku” Aku dan suamiku sepakat untuk memberitahu hal yg sebenarnya ketika dia berumur 14 tahun, saat dimana menurut kami adalah saat yg paling tepat”

“Dan ketika saat itu tiba, dia menunjukkan perubahan sikap, dan mendapatkan banyak masalah di sekolahnya. Satu – satunya cara untuk menenangkannya adalah dengan berjanji padanya, ketika dia berumur 18 tahun, kami akan mencari dan menemukan ibunya, dengan segala cara dan upaya”

“Tepat ketika dia berulang tahun yang ke18, dia mengalami kecelakaan motor karena seorang pengemudi yg mabuk menabrak putraku hingga meninggal”

Wanita itu bertanya pada Neil “So, apa yg Tuhanmu bisa katakan kepadaku tentang hal ini Neil ?”

Neil menangis dan kemudian dia bangkit dari tempat duduknya dan menghampiri wanita itu sambil berkata “Putramu meninggal supaya engkau bisa memenuhi janjimu padanya” Ibu kandungnya meninggal beberapa tahun yg lalu, dan kepergian putramu itu adalah untuk lebih mendekatkan dia dengan ibu kandungnya”
“Could u understand it? Tanya Neil kepada wanita itu. Dan kemudian wanita itu menangis sambil memeluk Neil karena merasa mendapatkan jawaban atas pertanyaan dia tentang “ketidakadilan” Tuhan kepadanya”

Well, my point is sometimes God talks to us through uncommon ways. Seringkali kita merasa Tuhan berlaku tidak adil kepada kita. Padahal kenyataannya adalah Tuhan sedang menunjukkan jalan terbaik menurutNya dan kita akan dapat mengetahuinya sendiri jika kita terus mencoba ”berdialog” dengan Tuhan.

Thank you Neil for your inspiring story! Hm, jadi pengen beli buku Conversation with God itu deh :)

A Friendly God or a “Punish full” God is depending on our mind!

My Room, October 16 2007